I’m Fine
Sejenak aku merenungkan, dalam sepi dan
derasnya air hujan. Hei apa kabar mu? Aku berharap kau selalu sehat, selalu
bahagia. Masih ingat denganku? Tidak apa-apa kalau kau lupa. Maafkan aku karena
untuk kesekian kalinya sudah lancang memikirkanmu, kau pasti tidak suka.
Aku tidak tau kenapa setiap hujan turun kau
selalu terbesit dalam pikiranku, kau selalu berlari kesana kemari di pikiranku.
Maafkan aku.
Aku turut berbahagia mendengar kabarmu akan
memulai kehidupan baru dengan orang yang kau cintai, sungguh aku bahagia,
sangat bahagia. Terlepas dari semua yang telah aku dan kau lalui bersama,
disini aku memahaminya bahwa semua yang telah aku dan kau lalui sama sekali
tidak ada artinya, bukan begitu?
Aku selalu berpikir.
Apakah begitu buruknya aku bagimu, sampai kau
tidak memberitahuku kabar bahagia ini?
Apakah begitu bencinya kau kepadaku, sampai kau
tidak memberitahuku kabar bahagia ini?
Apakah tidak berartinya aku untukkmu, sampai
kau tidak memberitahuku kabar bahagia ini?
Apakah ini, apakah itu, mungkinkah begini,
mungkinkah begitu. Pada akhirnya aku tau, aku tidak ada artinya apa-apa dalam
hidupmu.
6 tahun kita tumbuh bersama dari kecil, bermain
bersama, lari bersama, belajar bersama, berkelahi bersama, serta begitu banyak
hal yang telah kita lalui bersma.
Kita sama-sama menagis saat kelulusan tiba
karena kita akan menempuh pendidikan di sekolah yang berbeda, kau menenanganku
dan selalu mengatakan “jangan nangis, kita akan tetap menjadi sahabat kok
sampai kapanpun. Aku akan mengingatmu dan kau harus selalu ingat denganku,
janji?.” Anggukan kecil dariku menjawab pernyataan dan pertanyaanmu, iya aku
janji akan tetap menjadi sahabatmu dan tetap ingat denganmu.
3 tahun aku dan kau melewati masa SMP di
sekolah masing-masing, semua masih normal. Ketika kelas VII, lambaian tangan
dan senyuman kecil masih terpatri di wajahmu setiap kau di dalam bus menuju
sekolahmu dan bertemu denganku yang masih menunggu datangnya bus ke sekolahku.
Saat kelas VIII lambaian tanganmu sudah hilang ditelan bumi, tapi aku bersyukur
senyum kecilmu masih terparti di wajahmu, itu berarti kau masih mengingatku
bukan?. Ketika kelas IX tiba, senyum kecilmu sudah menguap, bahkan untuk
sekedar menoleh ke arahku kau tak sudi. Apa yang terjadi sahabatku? Apa kau
lupa kepadaku?.
3 tahun selanjutnya aku habiskan masa SMA di
sekolah yang sama denganmu. Tidak, aku tidak mengejarmu ke sana, aku hanya
ingin menempuh pendidikan di sekolah yang sangat diimpikan oleh semua siswa.
Aku tidak akan mulai terlebih dahulu, lagi pula
memulai untuk apa? Tidak ada yang aku akhiri bukan? Jadi biarlah jalan ini
mengalir seperti air di sungai, tidak begitu deras dan tidak begitu pelan.
Awal kelas X aku dan kau akan menjalani
perkemahan bagi siswa baru. Takdir menentukan aku di kelas X-8 dan kau di kelas
X-7. Anggukan kecil mulai terlihat diantara aku dan kau, sapaan kecil mulai
terdengar diantara aku dan kau, dan senyuman kecil mulai terpatri di wajahmu
dan wajahku. Bolehkah aku berharap? Just
a best friend.
Persahabatan kita kembali terbangun, dan
perasaan aneh ini mulai bangkit dari dalam hatiku. Aku mengerti tidak akan ada
persahabatan antara laki-laki dan perempuan, klise memang tapi dengan bodohnya aku tetap mengarunginya
Aku jelas mengerti perasaan apa ini, perasaan
terlarang yang tumbuh diantara persahabatan yang suci. Mengatakannya kepada mu?
Yang benar saja, aku tidak ingin kau menertawakanku sampai mati konyol.
Ketika kelas XI perasaan ini semakin meluap,
dengan segenap keberanian yang kupunya, aku bertekad mengungkapkannya kepadamu.
I always remember it. Sore hari
sepulang kelas excel dan kau pulang ekskul basket, seperti biasa aku dan kau
akan berjalan kaki kurang lebih 500 meter menuju halte bus. Saat aku akan
mengatakan perasaanku kau berkata, “aku menyukai sesorang, dia satu kelas
denganmu maukah kau membantuku?”. Tuhan bolehkah aku tidak mengenalnya sejak
kecil?.
Sahabatku asal kau bahagia aku akan melakukan
apapun untukmu, aku bahagia melihatmu bahagia bersamanya
Ketika semester akhir kelas XI, aku tidak
mengerti apa yang terjadi denganmu, tidak ada senyum kecil diwajahmu, tidak ada
sapaan yang kudengar dari bibirmu, bahkan anggukan kepalamu sudah tidak
terlihat. Kau menjauhiku? It’s oke,
aku mengerti.
Tiba saatnya upacara kelulusan dan tidak ada
yang berubah darimu, semua tetap sama, aku dan kau kembali menjadi asing satu
sama lain.
6 tahun berlalu dan semua tetap sama, aku tidak
mengerti apa kau berubah sangat membenciku? Sampai tiba kabar bahagiamu ku
dengar dari orang lain. Kau tau apa yang kurasakan? Sakit pasti, kecewa tentu,
marah jelas, tapi dari semua perasaan itu, rasa bahagia masih ada untukmu
sahabat.
Aku sangat bahagia mendengar kau akan
melangsungkan pernikahan dengan orang yang kau cintai, biarlah kalian
menganggapku munafik aku tidak perduli.
Untukmu sahabatku, semoga kau bahagia dengan
perempuan pilihanmu.
Untukmu sahabatku, do’a terbaik selalu
kupanjatkan untuk kebahagianmu.
Untukmu sahabatku, aku selalu bahagia.
Untukmu sahabatku, bolehkah aku tetap
menganggapmu sahabatku?
Untukmu sahabatku, ketahuilah aku masih dengan
perasaan yang sama untukmu.
Aku sadar, tuhan punya rencana yang terbaik
untukku, ya suatu saat nanti aku juga berhak bahagia dengan orang yang
kucintai.
Tidak kamu,
Tapi orang lain yang tepat untukku.
12’22’18
Love
Humaira Evanna