Minggu, 28 Juli 2019

Windows


Langit dengan malu-malu mulai menampakkan rona merah, pertanda sang surya sebentar lagi akan menyembunyikan diri di ufuk barat. Terlihat beberapa siswa di kelas XII IPA 2 diam-diam memasukkan peralatan belajar seakan mengerti bahwa sebentar lagi mereka akan terbebas dari hal melelahkan bernama bimbingan belajar. Berada di kelas tingkat akhir memang melelahkan. Tambahan belajar di sekolah, tugas sekolah yang menumpuk dengan dalih memperdalam materi, belum lagi bila orang tua mereka mengadakan les private malam hari dengan kedok “sukses ujian akhir” atau “diterima di Universitas ternama”, sangat melelahkan.

Pukul 16.00 waktu Konoha terdengar bunyi bel yang sangat dirindukan siswa-siswi Konoha Senior High School. Seakan bel tersebut adalah melodi terindah yang pernah mereka dengar, sehingga mampu menampakkan raut sumringah di sebagian besar wajah mereka. Siswa-siswi segera berhambur keluar menuju ke rumah masing-masing dengan harapan bisa beristirahat sejenak sebelum mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk. Tak jarang ada beberapa anak yang masih betah di lingkungan sekolah dengan kedok refreshing otak sebelum pulang.

“Sakura, kau tinggal lagi?” Kata gadis cantik bersuarai pirang panjang. Gadis yang diketahui bernama Sakura kemudian menoleh dan menganggukan kepala, disertai senyum kecil menghiasi wajah ayunya.

“Ino-”  perkataan itu terputus dengan jawaban cepat sahabatnya sejak Junior High School.

“Aku tau, kau tidak bisa pulang dengan keadaan otak terpanggang di suhu 100˚C.” Mendengar jawaban Ino, Sakura hanya mendengus seraya berkata dalam hati “berlebihan”.

“Aku hanya akan membaca ini” jawab Sakura sambil menunjukkan sebuah novel bersampul peach didepan wajah Ino. “setelah itu aku akan segera pulang jika sudah pukul 17.00.”

“Iya, jika tidak kau akan jalan kaki sampai rumah.” kata Ino. Sakura meringis mendengar perkataan Ino, otaknya berputar mengulang kejadian dimana dia keasyikan membaca sehingga ketinggalan bus terakhir dari arah sekolahnya dan berakhir jalan kaki dengan bayangan orang seperti mengikutinya. Meskipun jarak antara sekolah ke rumahnya tidak terlalu jauh. Tapi, jika berjalan sendiri seperti menempuh jarak berratus-ratus kilo meter sekaligus menyeramkan.

“Atau kau mau bermalam disini bersama para penunggu sekolah?” timpal Ino. “kurasa itu ide yang bagus dari pada jalan kaki.” Sambung Ino dengan senyum geli.

Sakura melotot mendengar perkataan nyleneh dari sahabat pirangnya. “Itu tidak akan terjadi, lagipula disini masih ramai.” Jawab Sakura sambil mengedarkan emeraldnya ke penjuru sekolah.

“Baiklah. Aku duluan” jawab Ino “sampai jumpa besok.” Teriak ino sambil setengah berlari meninggalkan kelas, tak lupa lambaian tangan menyertai langkahnya.
“Hati-hati Ino.” Teriak Sakura.

Gadis itu menoleh ke kanan berhadapan dengan jendela yang mengarah ke halaman sekolah. Emerald itu bergerak lambat memindai keadaan sekitar. Terlihat beberapa siswa-siswi yang masih setia di koridor lantai 3, entah itu menunggu jemputan, kencan singkat dengan kekasih, atau sekedar mengamati sekelompok siswa yang bermain basket setiap sore. Emerald itu berpindah memindai kondisi halaman sekolah yang terlihat ramai disertai teriakan-teriakan manja para siswi melihat idola mereka bermain basket.

Angin berhembus melalui celah jendela yang terbuka, mengibarkan surai pink sebahunya. Gadis  itu segera mengembalikan posisi arah kepalnya dan memejamkan mata. Menutup rapat  kedua jendela emeraldnya, seakan menyembunyikan sesuatu yang hanya diketahui oleh Tuhan dan dirinya. Helaan napas pelan diikuti terbukanya jendela emerald menandakan dia akan memulai rutinitas membacanya sebelum pulang.

Emerald itu bergerak lincah mengikuti setiap huruf yang berjajar rapi. Terkadang bibir tipisnya akan mengerucut sebal jika jalan cerita tidak sesuai dengan pemikirannya. Terkadang kedua alisnya akan menukik jika belum mengerti arah ceritanya. Jeritan-jeritan di halaman sekolah menjadi backsound tersendiri untuknya.

***

Halaman sekolah terlihat ramai oleh para siswi yang berkedok refreshing sebelum pulang. Terlihat beberapa pemuda sedang berlari memperebutkan benda bulat berharga. Pemuda dengan gaya rambut emo terlihat memonopoli benda bulat berharga. Tubuhnya seperti terprogram dengan lihai melewati hadangan dari tim lawan, tidak salah kenapa jabatan kapten basket pernah tersemat di lengan kirinya. Pemuda itu terus menuju ring lawan, mendorong benda bulat berharga dengan gaya lay up. Ekspresi puas tercetak di wajah tampannya setelah berhasil mencetak angka. Jeritan-jeritan manja dari para siswi berhasil menambah kesan mendramatisir suasana.

“Kyyaa Sasuke-kun.

“Kyyaaa Sasuke-kun keren.”

“Gayamu terlihat keren, tapi tidak sekeren aku.” Celetuk pemuda bersurai gelap dengan kulit pucat memenuhi tubuhnya. Sembari berjalan mendekati Sasuke melakukan adu jotos pada salah satu genggaman tangan mereka sebagai ajang selebrasi kemenangan timnya. Jendela onyxnya menyipit, mencetak senyum palsu di wajah tampannya. Sasuke hanya mendengus menanggapi perkataan narsis dari Sai.

“Teme kau berhasil. Kita menang yyeaa.” Teriak seorang pemuda berambut jabrik berwarna kuning. Tatapan merendahkan tercetak jelas di manik saphirenya sembari mengacungkan kedua jempol tangannya ke bawah yang ditunjukkan untuk tim lawan. Pemuda tersebut setengah berlari menuju dua temannya untuk melakukan selebrasi kemenangan.

“Hn.” Dua huruf berharga yang lolos dari bibir tipisnya. Cukup untuk menanggapi selebrasi kemenangan setelah melakukan adu jotos dengan kedua temannya.

“Cih.” Manik peraknya menatap bosan ke arah Naruto. Berjalan mendekat menghampiri tim lawan yang sedang mengistirahatkan diri.

“Kekanakan.” Gumaman pelan dari pemuda bersurai merah, sembari mengikuti langkah Neji menghampiri tim lawan.

“Merepotkan.” Kosa kata khas dari pemuda bersurai nanas. Berjalan mengambil benda bulat berharga dengan ogah-ogahan. “Kenapa jadi aku yang mengambilnya? Huh seharusnya ku biarkan saja, dasar merepotkan.” ungkapnya dalam hati. Langkah malasnya menyusul Gaara  mendekati sekelompok pemuda yang mengistirahatkan diri.

Dipinggir lapangan basket terlihat beberapa pemuda sedang mengistirahatkan tubuh setelah melakukan kegiatan rutin berkedok refreshing. Pemuda bersurai kuning bersemangat membujuk teman-temannya berakhir pekan di kedai ramen paman Teuchi. Menghabiskan beberapa mangkuk ramen tentunya sangat menyenangkan baginya. Mengabaikan bujuk rayu sahabat kuningnya, Sasuke memilih diam, mendongak kearah ruang kelasnya.

Jendela onyxnya menelisisk koridor lantai 3 yang mulai sepi. Manik kelamnya bergeser memastikan sesuatu yang seharusnya masih berada di tempatnya. Kedua sudut bibirnya tertarik sedikit mencetak senyum tipis di wajah tampannya mengetahui hal tersebut sesuai dengan dugaannya. Senyum tipis yang tidak mampu membuat lengkung dibibirnya diam-diam di ketahui sahabat oroknya. Naruto ikut tersenyum mendapati tingkah sahabat oroknya yang berjalan hampir tiga tahun terakhir.

***

Emerald itu masih bergerak lincah mengikuti setiap huruf yang berbaris rapi. Sedikit lagi dia hampir menamatkan bacaan novelnya, jika saja dia masih mendengar jeritan-jeritan di halaman sekolah. Tak ingin bernasib sial seperti dulu manik emeraldnya melirik halaman sekolah yang terlihat mulai sepi, emeraldnya bergulir menuju jam dinding kelas yang menunjukkan pukul 16.40. Gadis itu segera menutup novel dan menyambar tas punggungnya. Melangkahkan kakinya keluar kelas, sembari berfikir untuk menamatkan bacaannya saat menunggu bus, atau ketika dalam perjalanan pulang. Senyum kecil terparti di wajah ayunya memikirkan rencana yang akan dilakukannya, sampai langkah kecilnya terhenti di koridor lantai 1 mendengar teriakan dari pemuda yang menyeru namanya.

 ***

Manik kelam itu masih senantiasa menelisik sesuatu di lantai tiga. Menghiraukan diskusi temannya yang entah membahas apa. Lagi pula dengan senang hati Naruto akan menceritakannya dalam perjalanan pulang. Kosa kata andalannya akan meluncur jika mendengar namanya disebut oleh temannya. Onyxnya melirik benda berkilau yang bertengger di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul 16.40. Raut khawatir yang hanya disadari sahabat oroknya membuat Naruto mendengus geli.

“Ku rasa sebentar lagi akan pulang.” bisik pelan Naruto, tidak ingin menimbulkan keanehan di otak encer sahabat-sahabatnya.

“Hn.” Onyxnya memindai koridor lantai tiga, menanti sesuatu itu keluar dari persembunyiannya. Jendela onyxnya sedikit melebar saat mendapati apa yang di nanti-nanti muncul perlahan melewati koridor lantai tiga. Manik onyxnya mengikuti langkah kecil sosok tersebut hingga sampai di koridor lantai satu. Decakan pelan timbul saat mendengar seruan pemuda yang menyeru nama sosok tersebut, membuat langkah sosok itu terhenti dan menimbulkan seringai dari tiga pemuda lainnya. Ah apakah 3 pemuda lainnya sudah menangkap basah gerak-gerik Sasuke?.

“Sakura-chan.” Teriak heboh pemuda bersurai kuning yang pernah menjadi teman sekelasnya di kelas tingkat satu membuat langkah kakinya terhenti. Menutup jendela emerald sesaat kemudian menoleh ke arah pemuda yang memanggil namanya. Emeraldnya dengan nakal melirik pemuda di sebelah Naruto yang fokus dengan benda tipis miliknya.

“Baru mau pulang?” sambung Naruto, seketika pemuda bersurai kuning merasakan aura menyeramkan disebelahnya. Naruto melirik sekilas ke arah Sasuke yang balik menatap tajam si kepala durian “sudah terlanjur basah, lanjutkan saja” batinnya.

“Iya. Kau- maksudku kalian belum mau pulang?” jawab Sakura. Otaknya menyuruh untuk segera pergi, tapi tubuhnya menahan untuk tetap ditempat barang sebentar.

“Kenapa? Mau pulang bareng? Uhhuk, sakit sialan.” Akibat perkataan tidak dicerna Naruto sukses mendapat sikutan tajam di perutnya dan tatapan tajam yang seakan ingin menguliti tubuhnya. Jangan tanya siapa pelakunya. Tatapan tajam dari ke tiga sahabatnya pun menjadi hadiah geratis untuk Naruto.

Sakura memandang bingung sekelompok pemuda di depannya, kerutan halus tercetak di dahi lebarnya. Tidak ingin berada dalam kondisi yang menurutnya aneh lebih lama lagi, gadis itu memutuskan untuk mengakhiri pertemuan tidak disangkanya.

“Kalau begitu aku duluan Naruto.” Sakura berkata sembari menganggukkan surai pinknya ke arah Naruto. “Mari.” Tak lupa anggukannya juga ditujukkan ke arah sekelompok pemuda disana. Gadis itu segera berjalan pelan menuju halte bus terdekat. Meninggalkan sekelompok pemuda yang terdiam menatap pemuda berambut emo.

“Aku duluan.” Ucap Sasuke tiba-tiba. Pemuda itu segera bangkit dan menyambar tas punggungnya, melemparkan kunci mobilnya ke arah Naruto yang dengan sigap langsung ditangkap oleh sahabat oroknya. Mengerti isyarat yang diberikan Sasuke, pemuda jabrik itu sontak tersenyum menggundang tatapan aneh dari sahabat-sahabatnya.

“Semangat Sasuke.” Teriak lantang Naruto. Seketika langkah kaki Sasuke terhenti, berbalik dan memebrikan tatapan tajam yang jelas tidak akan berpengaruh sama sekali.

Mengerti maksud Naruto, Shikamaru menyambung yang berhasil menciptakan delikan tajam dari Sasuke. “Aku tau ini merepotkan, tapi semoga berhasil.” Gaara dan Neji hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan si pemalas berotak encer.

 “Cepat pergi!” perintah Sai, “apa kau mau melihat dia pulang bareng si tampan Rock Lee?” sambung Sai dengan senyum aneh di wajah pucatnya. Hadiah geratis pelototan tajam dari Sasuke membuat Naruto segera menepuk keras punggung Sai.

Sasuke segera berbalik, setengah berlari menyusul gadis yang diam-diam menempati relung hati sang pangeran Uchiha. “Sial, sejak kapan mereka menyadarinya?.” Batin Sasuke. Dia berfikir akan membuat perhitungan dengan sahabat-sahabatnya, terutama si kepala kuning Naruto.



kunjungi wattpad @evhachan untuk chapter selanjutnya...
see you again

Selasa, 25 Desember 2018

I am Fine


I’m Fine

Sejenak aku merenungkan, dalam sepi dan derasnya air hujan. Hei apa kabar mu? Aku berharap kau selalu sehat, selalu bahagia. Masih ingat denganku? Tidak apa-apa kalau kau lupa. Maafkan aku karena untuk kesekian kalinya sudah lancang memikirkanmu, kau pasti tidak suka.

Aku tidak tau kenapa setiap hujan turun kau selalu terbesit dalam pikiranku, kau selalu berlari kesana kemari di pikiranku. Maafkan aku.

Aku turut berbahagia mendengar kabarmu akan memulai kehidupan baru dengan orang yang kau cintai, sungguh aku bahagia, sangat bahagia. Terlepas dari semua yang telah aku dan kau lalui bersama, disini aku memahaminya bahwa semua yang telah aku dan kau lalui sama sekali tidak ada artinya, bukan begitu?

Aku selalu berpikir.
Apakah begitu buruknya aku bagimu, sampai kau tidak memberitahuku kabar bahagia ini?
Apakah begitu bencinya kau kepadaku, sampai kau tidak memberitahuku kabar bahagia ini?
Apakah tidak berartinya aku untukkmu, sampai kau tidak memberitahuku kabar bahagia ini?
Apakah ini, apakah itu, mungkinkah begini, mungkinkah begitu. Pada akhirnya aku tau, aku tidak ada artinya apa-apa dalam hidupmu.

6 tahun kita tumbuh bersama dari kecil, bermain bersama, lari bersama, belajar bersama, berkelahi bersama, serta begitu banyak hal yang telah kita lalui bersma.

Kita sama-sama menagis saat kelulusan tiba karena kita akan menempuh pendidikan di sekolah yang berbeda, kau menenanganku dan selalu mengatakan “jangan nangis, kita akan tetap menjadi sahabat kok sampai kapanpun. Aku akan mengingatmu dan kau harus selalu ingat denganku, janji?.” Anggukan kecil dariku menjawab pernyataan dan pertanyaanmu, iya aku janji akan tetap menjadi sahabatmu dan tetap ingat denganmu.

3 tahun aku dan kau melewati masa SMP di sekolah masing-masing, semua masih normal. Ketika kelas VII, lambaian tangan dan senyuman kecil masih terpatri di wajahmu setiap kau di dalam bus menuju sekolahmu dan bertemu denganku yang masih menunggu datangnya bus ke sekolahku. Saat kelas VIII lambaian tanganmu sudah hilang ditelan bumi, tapi aku bersyukur senyum kecilmu masih terparti di wajahmu, itu berarti kau masih mengingatku bukan?. Ketika kelas IX tiba, senyum kecilmu sudah menguap, bahkan untuk sekedar menoleh ke arahku kau tak sudi. Apa yang terjadi sahabatku? Apa kau lupa kepadaku?.

3 tahun selanjutnya aku habiskan masa SMA di sekolah yang sama denganmu. Tidak, aku tidak mengejarmu ke sana, aku hanya ingin menempuh pendidikan di sekolah yang sangat diimpikan oleh semua siswa.
Aku tidak akan mulai terlebih dahulu, lagi pula memulai untuk apa? Tidak ada yang aku akhiri bukan? Jadi biarlah jalan ini mengalir seperti air di sungai, tidak begitu deras dan tidak begitu pelan.

Awal kelas X aku dan kau akan menjalani perkemahan bagi siswa baru. Takdir menentukan aku di kelas X-8 dan kau di kelas X-7. Anggukan kecil mulai terlihat diantara aku dan kau, sapaan kecil mulai terdengar diantara aku dan kau, dan senyuman kecil mulai terpatri di wajahmu dan wajahku. Bolehkah aku berharap? Just a best friend.

Persahabatan kita kembali terbangun, dan perasaan aneh ini mulai bangkit dari dalam hatiku. Aku mengerti tidak akan ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan, klise memang tapi dengan bodohnya aku tetap mengarunginya

Aku jelas mengerti perasaan apa ini, perasaan terlarang yang tumbuh diantara persahabatan yang suci. Mengatakannya kepada mu? Yang benar saja, aku tidak ingin kau menertawakanku sampai mati konyol.

Ketika kelas XI perasaan ini semakin meluap, dengan segenap keberanian yang kupunya, aku bertekad mengungkapkannya kepadamu. I always remember it. Sore hari sepulang kelas excel dan kau pulang ekskul basket, seperti biasa aku dan kau akan berjalan kaki kurang lebih 500 meter menuju halte bus. Saat aku akan mengatakan perasaanku kau berkata, “aku menyukai sesorang, dia satu kelas denganmu maukah kau membantuku?”. Tuhan bolehkah aku tidak mengenalnya sejak kecil?.

Sahabatku asal kau bahagia aku akan melakukan apapun untukmu, aku bahagia melihatmu bahagia bersamanya

Ketika semester akhir kelas XI, aku tidak mengerti apa yang terjadi denganmu, tidak ada senyum kecil diwajahmu, tidak ada sapaan yang kudengar dari bibirmu, bahkan anggukan kepalamu sudah tidak terlihat. Kau menjauhiku? It’s oke, aku mengerti.

Tiba saatnya upacara kelulusan dan tidak ada yang berubah darimu, semua tetap sama, aku dan kau kembali menjadi asing satu sama lain.

6 tahun berlalu dan semua tetap sama, aku tidak mengerti apa kau berubah sangat membenciku? Sampai tiba kabar bahagiamu ku dengar dari orang lain. Kau tau apa yang kurasakan? Sakit pasti, kecewa tentu, marah jelas, tapi dari semua perasaan itu, rasa bahagia masih ada untukmu sahabat.

Aku sangat bahagia mendengar kau akan melangsungkan pernikahan dengan orang yang kau cintai, biarlah kalian menganggapku munafik aku tidak perduli.
Untukmu sahabatku, semoga kau bahagia dengan perempuan pilihanmu.
Untukmu sahabatku, do’a terbaik selalu kupanjatkan untuk kebahagianmu.
Untukmu sahabatku, aku selalu bahagia.
Untukmu sahabatku, bolehkah aku tetap menganggapmu sahabatku?
Untukmu sahabatku, ketahuilah aku masih dengan perasaan yang sama untukmu.

Aku sadar, tuhan punya rencana yang terbaik untukku, ya suatu saat nanti aku juga berhak bahagia dengan orang yang kucintai.
Tidak kamu,
Tapi orang lain yang tepat untukku.





12’22’18
Love

Humaira Evanna