Langit dengan malu-malu mulai menampakkan rona
merah, pertanda sang surya sebentar lagi akan menyembunyikan diri di ufuk
barat. Terlihat beberapa siswa di kelas XII IPA 2 diam-diam memasukkan
peralatan belajar seakan mengerti bahwa sebentar lagi mereka akan terbebas dari
hal melelahkan bernama bimbingan belajar. Berada di kelas tingkat akhir memang
melelahkan. Tambahan belajar di sekolah, tugas sekolah yang menumpuk dengan dalih
memperdalam materi, belum lagi bila orang tua mereka mengadakan les private malam hari dengan kedok
“sukses ujian akhir” atau “diterima di Universitas ternama”, sangat melelahkan.
Pukul 16.00 waktu Konoha terdengar bunyi bel
yang sangat dirindukan siswa-siswi Konoha
Senior High School. Seakan bel tersebut adalah melodi terindah yang pernah
mereka dengar, sehingga mampu menampakkan raut sumringah di sebagian besar
wajah mereka. Siswa-siswi segera berhambur keluar menuju ke rumah masing-masing
dengan harapan bisa beristirahat sejenak sebelum mengerjakan tugas-tugas yang
menumpuk. Tak jarang ada beberapa anak yang masih betah di lingkungan sekolah
dengan kedok refreshing otak sebelum
pulang.
“Sakura, kau tinggal lagi?” Kata gadis cantik
bersuarai pirang panjang. Gadis yang diketahui bernama Sakura kemudian menoleh
dan menganggukan kepala, disertai senyum kecil menghiasi wajah ayunya.
“Ino-”
perkataan itu terputus dengan jawaban cepat sahabatnya sejak Junior High School.
“Aku tau, kau tidak bisa pulang dengan keadaan
otak terpanggang di suhu 100˚C.” Mendengar jawaban Ino, Sakura hanya mendengus
seraya berkata dalam hati “berlebihan”.
“Aku hanya akan membaca ini” jawab Sakura
sambil menunjukkan sebuah novel bersampul peach
didepan wajah Ino. “setelah itu aku akan segera pulang jika sudah pukul
17.00.”
“Iya, jika tidak kau akan jalan kaki sampai
rumah.” kata Ino. Sakura meringis mendengar perkataan Ino, otaknya berputar
mengulang kejadian dimana dia keasyikan membaca sehingga ketinggalan bus terakhir dari arah sekolahnya dan
berakhir jalan kaki dengan bayangan orang seperti mengikutinya. Meskipun jarak
antara sekolah ke rumahnya tidak terlalu jauh. Tapi, jika berjalan sendiri
seperti menempuh jarak berratus-ratus kilo meter sekaligus menyeramkan.
“Atau kau mau bermalam disini bersama para
penunggu sekolah?” timpal Ino. “kurasa itu ide yang bagus dari pada jalan kaki.”
Sambung Ino dengan senyum geli.
Sakura melotot mendengar perkataan nyleneh dari sahabat pirangnya. “Itu
tidak akan terjadi, lagipula disini masih ramai.” Jawab Sakura sambil
mengedarkan emeraldnya ke penjuru sekolah.
“Baiklah. Aku duluan” jawab Ino “sampai jumpa
besok.” Teriak ino sambil setengah berlari meninggalkan kelas, tak lupa
lambaian tangan menyertai langkahnya.
“Hati-hati Ino.” Teriak Sakura.
Gadis itu menoleh ke kanan berhadapan dengan
jendela yang mengarah ke halaman sekolah. Emerald itu bergerak lambat memindai
keadaan sekitar. Terlihat beberapa siswa-siswi yang masih setia di koridor
lantai 3, entah itu menunggu jemputan, kencan singkat dengan kekasih, atau
sekedar mengamati sekelompok siswa yang bermain basket setiap sore. Emerald itu
berpindah memindai kondisi halaman sekolah yang terlihat ramai disertai
teriakan-teriakan manja para siswi melihat idola mereka bermain basket.
Angin berhembus melalui celah jendela yang
terbuka, mengibarkan surai pink
sebahunya. Gadis itu segera
mengembalikan posisi arah kepalnya dan memejamkan mata. Menutup rapat kedua jendela emeraldnya, seakan
menyembunyikan sesuatu yang hanya diketahui oleh Tuhan dan dirinya. Helaan napas
pelan diikuti terbukanya jendela emerald menandakan dia akan memulai rutinitas
membacanya sebelum pulang.
Emerald itu bergerak lincah mengikuti setiap
huruf yang berjajar rapi. Terkadang bibir tipisnya akan mengerucut sebal jika
jalan cerita tidak sesuai dengan pemikirannya. Terkadang kedua alisnya akan
menukik jika belum mengerti arah ceritanya. Jeritan-jeritan di halaman sekolah
menjadi backsound tersendiri
untuknya.
***
Halaman sekolah terlihat ramai oleh para siswi
yang berkedok refreshing sebelum
pulang. Terlihat beberapa pemuda sedang berlari memperebutkan benda bulat
berharga. Pemuda dengan gaya rambut emo
terlihat memonopoli benda bulat berharga. Tubuhnya seperti terprogram dengan
lihai melewati hadangan dari tim lawan, tidak salah kenapa jabatan kapten
basket pernah tersemat di lengan kirinya. Pemuda itu terus menuju ring lawan,
mendorong benda bulat berharga dengan gaya lay
up. Ekspresi puas tercetak di wajah tampannya setelah berhasil mencetak
angka. Jeritan-jeritan manja dari para siswi berhasil menambah kesan
mendramatisir suasana.
“Kyyaa Sasuke-kun.”
“Kyyaaa Sasuke-kun keren.”
“Gayamu terlihat keren, tapi tidak sekeren aku.”
Celetuk pemuda bersurai gelap dengan kulit pucat memenuhi tubuhnya. Sembari
berjalan mendekati Sasuke melakukan adu jotos pada salah satu genggaman tangan
mereka sebagai ajang selebrasi kemenangan timnya. Jendela onyxnya menyipit,
mencetak senyum palsu di wajah tampannya. Sasuke hanya mendengus menanggapi
perkataan narsis dari Sai.
“Teme kau berhasil. Kita menang yyeaa.” Teriak
seorang pemuda berambut jabrik berwarna kuning. Tatapan merendahkan tercetak
jelas di manik saphirenya sembari
mengacungkan kedua jempol tangannya ke bawah yang ditunjukkan untuk tim lawan. Pemuda
tersebut setengah berlari menuju dua temannya untuk melakukan selebrasi
kemenangan.
“Hn.” Dua huruf berharga yang lolos dari bibir
tipisnya. Cukup untuk menanggapi selebrasi kemenangan setelah melakukan adu
jotos dengan kedua temannya.
“Cih.” Manik peraknya menatap bosan ke arah
Naruto. Berjalan mendekat menghampiri tim lawan yang sedang mengistirahatkan
diri.
“Kekanakan.” Gumaman pelan dari pemuda bersurai
merah, sembari mengikuti langkah Neji menghampiri tim lawan.
“Merepotkan.” Kosa kata khas dari pemuda
bersurai nanas. Berjalan mengambil benda bulat berharga dengan ogah-ogahan. “Kenapa jadi aku yang mengambilnya? Huh
seharusnya ku biarkan saja, dasar merepotkan.” ungkapnya dalam hati.
Langkah malasnya menyusul Gaara mendekati sekelompok pemuda yang
mengistirahatkan diri.
Dipinggir lapangan basket terlihat beberapa
pemuda sedang mengistirahatkan tubuh setelah melakukan kegiatan rutin berkedok refreshing. Pemuda bersurai kuning
bersemangat membujuk teman-temannya berakhir pekan di kedai ramen paman Teuchi.
Menghabiskan beberapa mangkuk ramen tentunya sangat menyenangkan baginya.
Mengabaikan bujuk rayu sahabat kuningnya, Sasuke memilih diam, mendongak kearah
ruang kelasnya.
Jendela onyxnya menelisisk koridor lantai 3
yang mulai sepi. Manik kelamnya bergeser memastikan sesuatu yang seharusnya
masih berada di tempatnya. Kedua sudut bibirnya tertarik sedikit mencetak
senyum tipis di wajah tampannya mengetahui hal tersebut sesuai dengan
dugaannya. Senyum tipis yang tidak mampu membuat lengkung dibibirnya diam-diam
di ketahui sahabat oroknya. Naruto
ikut tersenyum mendapati tingkah sahabat oroknya
yang berjalan hampir tiga tahun terakhir.
***
Emerald itu masih bergerak lincah mengikuti
setiap huruf yang berbaris rapi. Sedikit lagi dia hampir menamatkan bacaan
novelnya, jika saja dia masih mendengar jeritan-jeritan di halaman sekolah. Tak
ingin bernasib sial seperti dulu manik emeraldnya melirik halaman sekolah yang
terlihat mulai sepi, emeraldnya bergulir menuju jam dinding kelas yang menunjukkan
pukul 16.40. Gadis itu segera menutup novel dan menyambar tas punggungnya. Melangkahkan
kakinya keluar kelas, sembari berfikir untuk menamatkan bacaannya saat menunggu
bus, atau ketika dalam perjalanan
pulang. Senyum kecil terparti di wajah ayunya memikirkan rencana yang akan
dilakukannya, sampai langkah kecilnya terhenti di koridor lantai 1 mendengar
teriakan dari pemuda yang menyeru namanya.
***
Manik kelam itu masih senantiasa menelisik
sesuatu di lantai tiga. Menghiraukan diskusi temannya yang entah membahas apa. Lagi
pula dengan senang hati Naruto akan menceritakannya dalam perjalanan pulang. Kosa
kata andalannya akan meluncur jika mendengar namanya disebut oleh temannya.
Onyxnya melirik benda berkilau yang bertengger di pergelangan tangan kirinya
menunjukkan pukul 16.40. Raut khawatir yang hanya disadari sahabat oroknya membuat Naruto mendengus geli.
“Ku rasa sebentar lagi akan pulang.” bisik
pelan Naruto, tidak ingin menimbulkan keanehan di otak encer
sahabat-sahabatnya.
“Hn.” Onyxnya memindai koridor lantai tiga,
menanti sesuatu itu keluar dari persembunyiannya. Jendela onyxnya sedikit
melebar saat mendapati apa yang di nanti-nanti muncul perlahan melewati koridor
lantai tiga. Manik onyxnya mengikuti langkah kecil sosok tersebut hingga sampai
di koridor lantai satu. Decakan pelan timbul saat mendengar seruan pemuda yang
menyeru nama sosok tersebut, membuat langkah sosok itu terhenti dan menimbulkan
seringai dari tiga pemuda lainnya. Ah apakah 3 pemuda lainnya sudah menangkap
basah gerak-gerik Sasuke?.
“Sakura-chan.”
Teriak heboh pemuda bersurai kuning yang pernah menjadi teman sekelasnya di
kelas tingkat satu membuat langkah kakinya terhenti. Menutup jendela emerald
sesaat kemudian menoleh ke arah pemuda yang memanggil namanya. Emeraldnya
dengan nakal melirik pemuda di sebelah Naruto yang fokus dengan benda tipis
miliknya.
“Baru mau pulang?” sambung Naruto, seketika
pemuda bersurai kuning merasakan aura menyeramkan disebelahnya. Naruto melirik
sekilas ke arah Sasuke yang balik menatap tajam si kepala durian “sudah terlanjur basah, lanjutkan saja”
batinnya.
“Iya. Kau- maksudku kalian belum mau pulang?”
jawab Sakura. Otaknya menyuruh untuk segera pergi, tapi tubuhnya menahan untuk
tetap ditempat barang sebentar.
“Kenapa? Mau pulang bareng? Uhhuk, sakit
sialan.” Akibat perkataan tidak dicerna Naruto sukses mendapat sikutan tajam di
perutnya dan tatapan tajam yang seakan ingin menguliti tubuhnya. Jangan tanya
siapa pelakunya. Tatapan tajam dari ke tiga sahabatnya pun menjadi hadiah
geratis untuk Naruto.
Sakura memandang bingung sekelompok pemuda di
depannya, kerutan halus tercetak di dahi lebarnya. Tidak ingin berada dalam
kondisi yang menurutnya aneh lebih lama lagi, gadis itu memutuskan untuk
mengakhiri pertemuan tidak disangkanya.
“Kalau begitu aku duluan Naruto.” Sakura
berkata sembari menganggukkan surai pinknya
ke arah Naruto. “Mari.” Tak lupa anggukannya juga ditujukkan ke arah sekelompok
pemuda disana. Gadis itu segera berjalan pelan menuju halte bus terdekat. Meninggalkan sekelompok
pemuda yang terdiam menatap pemuda berambut emo.
“Aku duluan.” Ucap Sasuke tiba-tiba. Pemuda itu
segera bangkit dan menyambar tas punggungnya, melemparkan kunci mobilnya ke
arah Naruto yang dengan sigap langsung ditangkap oleh sahabat oroknya. Mengerti isyarat yang diberikan
Sasuke, pemuda jabrik itu sontak tersenyum menggundang tatapan aneh dari
sahabat-sahabatnya.
“Semangat Sasuke.” Teriak lantang Naruto.
Seketika langkah kaki Sasuke terhenti, berbalik dan memebrikan tatapan tajam
yang jelas tidak akan berpengaruh sama sekali.
Mengerti maksud Naruto, Shikamaru menyambung
yang berhasil menciptakan delikan tajam dari Sasuke. “Aku tau ini merepotkan,
tapi semoga berhasil.” Gaara dan Neji hanya tersenyum tipis menanggapi
perkataan si pemalas berotak encer.
“Cepat
pergi!” perintah Sai, “apa kau mau melihat dia pulang bareng si tampan Rock
Lee?” sambung Sai dengan senyum aneh di wajah pucatnya. Hadiah geratis
pelototan tajam dari Sasuke membuat Naruto segera menepuk keras punggung Sai.
Sasuke segera berbalik, setengah berlari
menyusul gadis yang diam-diam menempati relung hati sang pangeran Uchiha. “Sial, sejak kapan mereka menyadarinya?.”
Batin Sasuke. Dia berfikir akan membuat perhitungan dengan sahabat-sahabatnya,
terutama si kepala kuning Naruto.
kunjungi wattpad @evhachan untuk chapter selanjutnya...
see you again
Tidak ada komentar:
Posting Komentar